Berita Terkini: Izin Terancam Dicabut, Saham First Media Anjlok

0
18

Berita terkini terkait First Media. Harga saham PT First Media Tbk terjerembab pada perdagangan pagi ini, Senin (19/11), seiring dengan keputusan Kementerian Komunikasi dan Informatika yang akan mencabut izin penggunaan frekuensi 2,3 GHz milik perusahaan dan PT Internux (Bolt).

RTI Infokom mencatat harga saham emiten berkode KBLV tersebut sudah terkoreksi 16,3 persen atau 60 poin ke level Rp312 per saham pada pukul 09.10 WIB. Pada pembukaan, harganya bahkan sempat menyentuh Rp280 per saham.

Analis Anugerah Sekuritas Bertoni Rio mengamini anjloknya saham First Media pagi ini sebagai bentuk respons negatif pasar atas pencabutan izin frekuensi 2,3 GHz milik perusahaan, khususnya juga Bolt. Seperti diketahui, First Media merupakan pemilik saham mayoritas Internux sejak 2014 lalu.

“Bisnis Bolt yang dijalankan oleh First Media dikatakan gagal bersaing dengan pesaingnya. Kemungkinan bisnis ini sengaja tidak diperpanjang seiring tidak ada pendapatan ke induk usaha,” ungkap Bertoni kepada CNNIndonesia.com.

Walaupun begitu, Bertoni menilai pelemahan signifikan saham First Media hanya berlangsung dalam jangka pendek. Setelah itu, pelemahannya akan kembali terbatas seperti sebelumnya.

Lagipula, saham First Media memang terbilang tidak liquid, sehingga volume transaksi per harinya terbilang tidak tinggi. Walhasil, harga saham juga tak bergerak signifikan.
“Tidak liquid artinya hanya investor-investor jangka panjang,” jelas Bertoni.

Sebelumnya, Plt Humas Kemenkominfo Ferdinandus Setu mengatakan Kemenkominfo sedang memroses penyiapan SK Pencabutan Izin Penggunaan Frekuensi Radio kepada First Media dan Internux. Selain itu, satu operator lainnya, PT Jasnita Telekomindo juga akan bernasib sama dengan First Media dan Internux.

Ini lantaran ketiga operator itu tak juga kewajiban membayar BHP frekuensi radio di 2,3 GHz hingga batas waktu yang diberikan pemerintah pada Sabtu (17/11) kemarin.
First Media dan Bolt menunggak kewajiban membayar BHP frekuensi radio di 2,3 GHz untuk tahun 2016 dan 2017. Jumlah tunggakan pokok dan dendanya masing-masing Rp364 miliar, sedangkan Bolt sebesar Rp343 miliar.

Dengan begitu, jumlah tunggakan dan denda BHP frekuensi radio tahun 2016 dan 2017 kedua anak perusahaan Grup Lippo ini sekitar Rp 707 miliar. Sementara, tunggakan dan denda Jasnita sebesar Rp 2,19 miliar.

Simak berita terkiniberita hari iniberita terupdateberita terbaru seputar newssepak bolaentertainmentpolitiksportmotoGPk-poplifestylesainsotomotiftravel hanya di kumparan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here